Minggu, 04 November 2007

Anak-anak yang Diyatimkan

Dzu Walayah lenyap dari rumah kediamannya tanpa seorang pun mengerti ke mana
ia pergi, terkadang bahkan dalam waktu yang lama sekali.
Ia selalu berpamit kepada istrinya dengan kata-kata yang sukar dipahami,
"Aku wajib meluangkan waktu untuk menemui saudara-saudaraku dalam sunyi!"
Orang-orang, karena amat sibuk oleh kerja, uang dan gengsi, tak pernah punya
kesempatan untuk mengenali siapa sebenarnya ia.
Sebagian menyimpulkan ia gila, sebagian lain menyebutnya sebagai orang yang
gemar mencari perkara, lainnya lagi beranggapan bahwa ia adalah lelaki yang
suka berkhalwat dan bergaul dengan rasa derita.
Aku membuntuti Dzu Walayah di suatu siang yang amat terik, berjalan
menyusuri jalanan, berpakaian kumuh, tak memakai alas kaki dan wajahnya
bagai orang kesakitan.
Ini adalah zaman modern yang efisien dan efektif di mana setiap orang
memusatkan diri pada pencarian kejayaan dan kemegahan: oleh karena itu
terhadap perangai lelaki itu aku sungguh penasaran.
Di suatu lorong yang sepi tiba-tiba saja ia membalikkan badan dan
memergokiku.
Tapi sebelum sempurna kuurus rasa kagetnya, terdengar ia berkata, "Mari,
nak, berjalan saja bersamaku. Kalau dibuntuti, aku selalu merasa seperti
seekor binatang berbuntut."
Hampir aku tertawa oleh kata-katanya, tapi karena aku salah tingkah, spontan
kuikuti saja ia melangkah.
"Aku selalu mencari kesempatan untuk bertemu dengan anak-anak yatim,"
katanya tanpa kuminta.
"Kenapa tidak langsung ke rumah-rumah panti asuhan anak-anak yatim?" aku
bertanya.
"Ke sanalah memang sebagian dari perjalananku. Kasihan anak-anak itu.
Tinggal di rumah yatim. Rumah yang selalu mengumumkan kepada orang banyak
bahwa ia adalah tempat anak-anak yatim."
"Kenapa kasihan, wahai Dzu Walayah?"
"Karena dengan begitu anak-anak asuh itu tiap hari disuruh merasa yatim.
Disuruh merasa tak punya orangtua. Padahal tujuan panti asuhan adalah
mengembangkan perasaan aman pada anak-anak itu agar mereka sama dengan
anak-anak lain yang punya orangtua."
Ternyata apa yang terjadi pada lelaki ini adalah sesuatu yang sederhana
saja.
"Jadi," kataku, "kalau soalnya hanya demikian saja, untuk apa Anda lara lapa
berjalan kaki, berpakaian kumuh dan berlaku seperti ini?'
"Pertama karena aku ingin memasuki jiwa anak-anak itu. Kedua aku ingin
merasakan keyatiman yang dahsyat: dengan penampilan seperti ini, bahkan
anak-anak yatim pun tak menerimaku. Aku tak sanggup berbuat apa pun untuk
menyantuni atau mengurangi jumlah anak-anak yatim. Oleh karena itu aku
memohon kepada Allah hendaknya diperkenankan setidaknya menemani situasi
jiwa mereka."
"Di dunia ini," ia meneruskan, "Allah memuliakan sebagian dari
hamba-hambanya dengan menakdirkan mereka menjadi anak-anak yatim. Setiap
Muslim wajib menyantuni anak-anak yatim, baru kemudian orang miskin. Itulah
tanda kemuliaan anak-anak yatim. Merekalah unsur penguji apakah kita
mendustakan agama atau tidak."
"Anak-anak yatim adalah kendaraan utama yang bisa kita naiki untuk mencari
keluhuran. Tetapi hanya Allah yang berhak meyatimkan seseorang, sebab
tindakan peyatiman oleh Allah itu disertai dengan akal budi dan fasilitas
yang diberikan kepada orang-orang lain untuk menyantuni anak-anak yatim."
"Adapun di dunia yang disebut maju dan modern ini, sebagian pekerjaan
penting dari manusia adalah meyatimkan anak-anak, bahkan anak-anak mereka
sendiri. Orang-orang modern di kota-kota amat sibuk bekerja sehingga
anak-anak mereka teryatimkan. Kapan saja seorang anak tidak memperoleh
perhatian, cinta kasih dan santunan dari orangtuanya, pada jam-jam itu ia
menjadi yatimm. Kalau bapaknya sibuk rapat dan ibunya sibuk arisan, kau bisa
hitung sendiri berapa jam sehari anak itu menjadi yatim piatu. Anak-anak
yang diyatimkan oleh orang-orangtuanya itu lantas mencari orangtua di dunia
abstrak, mencari cinta kasih di tempat-tempat yang mmereka tak tahu
bagaimana mencarinya. Mereka menjadi berandal di jalanan, tidak peka
terhadap batas baik buruk, tidak terlatih bagaimana berlaku baik. Mereka
tidak terdidik menghargai sesama manusia, karena bahkan oleh orangtua mereka
sendiri mereka kurang dihargai sebagai manusia. Anak-anak yatim seperti itu,
yang kalau bertemu denganku selalu merasa jijik, memandang rendah, bahkan
mungkin meludah. Tetapi ketahuilah bahwa tak ada orang yang lebih menanggung
dosa perilaku dan sikap anak-anak itu selain orang-orangtua mereka sendiri."
Telah amat jauh kami berjalan, dan perutku sudah amat terasa kelaparan,
tetapi Dzu Walayah terus menyerbuku dengan pernyataan-pernyata an -
"Adapun engkau pastilah anak yang berpikiran cerdas untuk mengetahui betapa
banyak jenis keyatiman di dunia maju yang gegap gempita ini."
"Jika anak-anak tak memperoleh pendidikan seperti yang Allah memberinya hak
dan kewajiban, yatimlah ia. Jika orangtua terlalu mendikte anaknya dan
menjadikan anak itu hanya sebagai alat dari kemauannya, yatimlah ia. Jika
suatu tata perekonomian memberi kemudahan yang berlebih kepada sebagian
orang dan memberi kesulitan yang berlebih kepada sebagian lainnya, maka
yatimlah orang yang disukarkan. Jika suatu tata politik tak menyediakan
ruang bagi anak-anak negerinya untuk mengembangkan pikiran dan sumbangan
jujur bagi kemajuan negerinya, maka yatimlah pura-putri negeri yang mulutnya
dibungkam itu."
"Betapa melimpah anak-anak yatim di sekitarmu, Nak. Jika kau bisa ubah,
ubahlah. Tapi setidaknya berdzikirlah untuk mengingat mereka, seperti yang
kulakukan dengan caraku sendiri ini."

1987.
Emha Ainun Nadjib

Sejarah Lahirnya Nahdlatoel Oelama

Babak Demi Babak Kelahiran NU

Nahdlatul Ulama yang lahir 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H) menyimpan sejarah kelahiran yang berliku-liku. Selain menghadang arus modernisasi pemikiran yang bertentangan dengan kaum tradisionalis, juga menjadi wadah para ulama dalam memimpin umat menuju terciptanya izzul Islam wal muslimin (kejayaan Islam dan kaum muslimin)

Kongres Al-Islam keempat di Yogyakarta (21-27 Agustus 1925) dan kongres Al-Islam kelima di Bandung (5 Februari 1926), kedua rapat akbar umat Islam Indonesia ini untuk memilih utusan untuk menghadiri Kongres Islam se-Dunia di Mekah. Kongres Al-Isalam di Yogyakarta dan Bandung sangat didominasi oleh kalangan Islam modernis. Bahkan sebelum kongres di Bandung itu kalangan modernis sudah mengadakan pertemuan terlebih dahulu (8-10 Januari 1926) yang salah satu keputusannya menetapkan H.O.S. Tjokroaminoto dari Sarekat Islam dan KH Mas Mansur dari Muhammadiyah sebagai utusan untuk menghadiri kongres di Mekah.
KH A Wahab Chasbullah dari kalangan tradisionalis yang “disingkirkan” dalam perhelatan itu, mencoba mengajukan usul-usul atas aspirasi Islam tradisonalis agar Raja Ibnu Saud menghormati tradisi keagamaan seperti membangun kuburan, membaca doa seperti Dalailul Khayrat, ajaran madzhab, termasuk tradisi yang menggurat di Mekah dan Madinah. Tetapi usul-usul tersebut nampaknya dikesampingkan oleh kalangan modernis. (lihat alKisah, No 4/IV/2006, rubrik Sejarah; Harlah NU: Menghadang Langkah Wahabi, hal 68-72).
Akhirnya Kiai Wahab beserta tiga orang pengikutnya meninggalkan kongres dan mengambil inisiatif tersendiri dengan mengadakan rapat-rapat di kalangan ulama senior. Musyawarah-musyawarah kecil itu awalnya hanya melibatkan beberapa tokoh yang datang dari sekitar daerah Ampel, Kawatan, Bubutan, Sawahan dan daerah sekitarnya, semuanya kebanyakan dari Surabaya. Uniknya, rapat semacam itu dilakukan di sebuah mushala yang didirikan oleh H. Musa. Mushala itu terletak Jalan Ampel Masjid (sekarang menjadi Jl Kalimas Udik).
Baru setahun kemudian, tepatnya pada 31 Januari 1926 (16 Rajab 1344 H), dalam sebuah pertemuan di rumah Kiai Wahab di kampung Kawatan, Surabaya, yang dihadiri sejumlah ulama dari beberapa pesantren besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, para kiai sepuh sepakat mendirikan Komite Hijaz untuk mengantisipasi gerakan Wahabi, yang didukung secara politik oleh Raja Ibnu Saud.
Pertemuan bersejarah itu memang dihadiri oleh beberapa ulama senior yang berpengaruh, seperti KH Hasjim Asj’ari dan KH Bisri Syansuri (Jombang), KH R. Asnawi (Kudus), KH Ma'sum (Lasem, Rembang) KH Nawawi (Pasuruan), KH Nahrowi, KH. Alwi Abdul Aziz (Malang), KH Ridlwan Abdullah, KH Abdullah Ubaid (Surabaya), KH Abdul Halim (Cirebon), KH Muntaha (Madura), KH Dahlan Abdul Qohar (Kertosono), KH Abdullah Faqih (Gresik) dan lain-lain. (sumber: Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Khitthah Nahdhlatul Ulama, Surabaya, Lajnah Ta’lif Wan Nasr, t.t hal 10-11).

Ketua HBNO
Pertemuan para ulama di kediaman Kiai Wahab itu juga menyepakati pembentukan sebuah jam’iyah sebagai wadah para ulama dalam memimpin umat menuju terciptanya izzul Islam wal muslimin (kejayaan Islam dan kaum muslimin). Jam’iyah itu diberi nama Nahdlatoel Oelama (kebangkitan kaum ulama), yang antara lain bertujuan membina masyarakat Islam berdasarkan paham Ahlusunnah wal Jama’ah seperti tertuang dalam Pasal 3 ayat a & b, (Statuten Perkoempulan Nadlatoel Oelama 1926, HBNO, Soerabaia, 1344 H), yakni: ”Mengadakan perhoebungan di antara oelama-oelama jang bermadzhab” dan “memeriksa kitab-kitab sebeloemnya dipakai oentoek mengadjar, soepaja diketahoei apakah itoe dari pada kitab-kitab Ahli Soennah wal Djama’ah atau kitab Ahli Bid’ah.”
Dalam forum ulama yang cukup sederhana itu, Haji Hasan Gipo (1869-1934) ditunjuk oleh KH Wahab Chasbullah menjadi ketua Tanfidziyah HBNO (Hoofd Bestuur Nahdlatoel Oelama) dengan diampingi KH Rois Said (Paneleh, Surabaya) sebagai Rois Syuriah. Pertemuan tersebut juga memutuskan, mengirim delegasi (Komite Hijaz) antara lain: KH Wahab Hasbullah (Jombang), KH Khalil Masyhudi (Lasem) dan Syekh Ahmad Ghunaim Al-Mishri untuk menghadiri Kongres Islam se-Dunia di Makkah sekaligus menemui Raja Ibnu Saud. Mereka membawa pesan para ulama agar Ibnu Saud menghormati ajaran madzhab empat dan memberikan kebebasan dalam menunaikan ibadah. Dalam jawaban tertulisnya, Ibnu Saud hanya menyatakan akan menjamin dan menghormati ajaran empat madzhab dan paham Ahlusunnah wal Jama’ah.
Sampai sekarang, riwayat ketua Tanfidziyah HBNO pertama, yakni Haji Hasan Gipo, sangat sulit dilacak. Hanya saja sejarah mencatat, kepengurusan duet H. Hasan Gipo dan KH. Rois Said berlangsung selama 3 tahun. Menurut buku Karisma Ulama: Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU, Yayasan Saifuddin Zuhri dan penerbit Mizan, 1998 hal 49-54 menyebutkan, Hasan Gipo lahir di daerah Kampung Sawahan (sekarang Jl. Kalimas Udik). Ia masih keturunan keluarga besar dari “marga” Gipo sehingga nama Gipo diletakan di belakang nama Hasan. Nama Gipo sebenarnya merupakan singkatan Sagipoddin dari bahasa Arab Saqifuddin, saqaf (pelindung) dan al-dien (agama). Jika dirunut silsilahnya, Hasan Gipo masih punya hubungan keluarga dengan KH. Mas Mansyur, salah seorang pendiri Muhammadiyah, yang juga adalah keturunan Abdul Latief Gipo.
Gipo yang berdarah Arab, merupakan saudagar kaya di daerah komplek Ampel, Surabaya. Hingga kampung tempat Gipo kemudian dikenal dengan Gang Gipo dan keluarga ini mempunyai makam kelaurga yang dinamai makam keluarga, makam Gipo di kompleks Masjid Ampel. Gang Gipo sendiri kini berubah menjadi Jalan Kalimas Udik.
Sebagai orang yang punya keturunan Arab, Hasan Gipo digambarkan bertubuh sedikit besar, berbadan gemuk dan berkumis. Ia dikaruniai tiga putra dan wafat pada tahun 1934. Sebagian keturunan Hasan Gipo kini tinggal di daerah Wonokromo, Surabaya dan Gresik.
Baru sesudah Muktamar IV di Semarang (1348 H/1929 M), H. Hasan Gipo digantikan oleh KH Noor (Sawah Pulo, Surabaya) yang didampingi KH Hasyim Asya’ri sebagai Rois Akbar HBNO dengan KH Wahab Chasbullah sebagai Katib ‘Am. (Sumber: surat permintaan pengakuan pengajuan pendirian NO pada 5 September 1929 M oleh kuasa Nahdlatoel Oelama yakni KH Said bin Saleh). Pemerintah Hindia Belanda baru merespon permintaan tersebut pada tanggal 6 Februari 1930 dan masuk dalam besluit (Surat Keputusan) Goebernoer-Djendral (GD) Nomor I x.23.1930. Dalam Statuten itu juga berisi Anggaran Dasar NO yang terdiri 12 pasal yang ditulis dengan dwi bahasa; Belanda dan Indonesia. Yang mengesahkan Badan Hukum NO atas nama GD Hindia-Nederland adalah GR. ERDBINK. Sayang, dokumen penting ini kini berada di Universitas Leiden, Belanda.

Kantor HBNO
Presiden HBNO pertama, H. Hasan Gipo, menempati sebuah rumah yang sederhana sebagai sekretariat di Jl. Sasak no 32, Surabaya sampai tahun 1945. Selain HBNO, badan otonom NO yakni barisan pemuda Anshor berkantor di Jl Bubutan 6/2, Surabaya. Ketika Surabaya direbut Belanda dan menyusul meletusnya perlawanan rakyat melawan penjajah pada 10 November 1945. KH Muhammad Dahlan, Konsul NO Jawa Timur memindahkan ke Jl. Pengadangan 3, Kabupaten Pasuruan. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda I (1947) dan Pasuruan jatuh ke tangan Belanda, KH Mohammad Dahlan kembali memindahkan kantor HBNO ke Jl. Dr. Soetomo No 9, Madiun. Setahun kemudian, September 1948 meletus pemberontakan PKI Madiun dan disusul dengan Angresi Militer Belanda II. Akhirnya kantor PBNU kembali dipindahkan ke Surabaya.
Sejak ibukota Republik Indonesia kembali ke Jakarta, 1950, PBNO juga ikut pindah ke Jakarta. Ruangan kantor PBNO terletak di Jl Menteng Raya 24, kira-kira 300 meter sebelah timur stasiun Gambir. Ruangan tersebut adalah bagian dari Kantor Dagang ‘Waras’, sebuah perusahaan dagang milik orang-orang NO yakni Wahid Hasyim, Zainul Arifin dan Achsien.
Sekalipun berpindah-pindah kantor, NO telah menjelma menjadi ‘bayi raksasa’ seperti yang telah diramalkan KH Cholil, Bangkalan. Pengurus Cabang dan Wilayah secara cepat telah tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia dan menadapat dukungan yang luas dari para Kiai serta santri pesantren salaf. Tak mengherankan jika pada Pemilu 1955, dalam tempo kurang dari tiga tahun persiapan, NO mampu menduduki tiga dari the big four (empat besar) pemenang pemilu dengan jumlah pemilih 6.955.141 suara; setelah PNI dan Masyumi, posisi keempat ditempati PKI.
Tentu, untuk ukuran sebuah organisasi sosial kemasyarakatan dan partai politik Islam terbesar di Indonesia, kantor NO di Menteng Raya sudah sangat tidak layak. Pada 1956, KH Saifuddin Zuhri sewaktu menjabat Sekjen PBNO meminta KH Mohammad Dahlan untuk mencari tempat yang lebih layak. Dua minggu kemudian, Dahlan melapor kepada KH Saifuddin Zuhri bahwa calon gedung PBNO terletak di Jl. Kramat Raya No 164.
Ketika melihat bangunan fisiknya, Saifuddin merasa kurang cocok dengan gedung itu. Baginya, gedung tersebut hanya layak sebagai toko. Dahlan terus meyakinkan Saifuddin bahwa letak yang strategis dan harganya juga murah, cuma Rp 1.250.000,- dan dapat diangsur dua kali. Menurut KH Mohammad Dahlan, sulit mencari gedung yang baik dan harga terjangkau PBNO karena kondisi keuangan PBNO waktu itu kurang menggembirakan. (sumber: Buku Berangkat Dari Pesantren, KH Saifuddin Zuhri, PT Gunung Agung, 1987).
Selain itu ada cerita menarik lainnya, dahulu KH Mohamad Dahlan dan KH Saifuddin Zuhri mempunyai kesukaan yang sama yakni makan sup, gulai dan sate kambing di Jl. Raden Saleh yang terkenal sangat nikmat. Mengapa Dahlan ngotot memilih gedung di Jl Kramat 164 sebagai kantor PBNU, menurut Subhan ZE kepada KH Saifuddin Zuhri.”Letaknya kan hanya 300-400 meter dari warung makan (RM di Jl. Raden Saleh) langganan kita,” kata Dahlan kepada Subchan ZE dengan tertawa terkekeh-kekeh.
Tanpa disadari sebelumnya, kantor PBNU itu ternyata berhadapan dengan CC-PKI. Seperti diketahui Jalan Kramat Raya itu memanjang dari ujung paling utara di Senen Raya dan ujung paling selatan di Salemba Raya. Di jalan strategis dan sibuk itu 4 partai politik menempatkan kantor mereka. Pada satu deretan berjarak antara 200-300 meter berdiri kantor DPP Masyumi, CC PKI persis di muka PBNU, mendekati Salemba Raya berdiri kantor DPP-PNI.
Hingga kini, setelah 60 tahun lebih berselang, gedung di Jl Kramat Raya 164 tetap dimanfaatkan sebagai kantor PBNU. 1999 sewaktu KH. Abdurrahman Wahid menjabat sebagai Presiden RI, gedung PBNU direnovasi menjadi gedung megah berlantai delapan. sumber: http://pengrajinkata.blogspot.com/

SANG PEMANJAT

Nyanyi sunyi sang pemanjat
Berpeluh meniti jalan terjal
Meniti sampai puncak keabadian
Menatap indahnya semesta Tuhan