Jumat, 07 Desember 2007

Selayang Pandang Sufisme


Dimasa kini, dikala manusia hanya memandang materi sebagai kebutuhannya dan makin maraknya faham sekuler pada akhirnya mereka ingin kembali mencerahkan hatinya dengan kembali pada jalur religi, sebagaimana yang sering kita jumpai akhir-akhir ini banyak sekali dari pelbagai kalangan yang merasa tertarik dengan ajaran sufistik kendatipun banyak juga yang menyangsikan ajaran itu.
Dari sekian banyak orang yang meragukan sufisme, berasumsi bahwa sufiyyah tidaklah pantas dikategorikan Ahli Sunnah Wal Jama'ah melainkan melainkan sebagai ahli bid'ah atau ahli fasik, karena mereka beranggapan sufiyyah dalam keilmuannya banyak sekali mengadopsi budaya hindu dan faham filsafat yunani, keterangan ini dikutip dari maqolahnya DR. Zakki Mubarok dalam kitab Akhlak Lil Ghozaly.
Imam Murtadlo Az Zabidi dalam kitab Ittihafus Sadah menjelaskan," Golongan-golongan yang kontra dengan ajaran sufiyah berasumsi bahwa diantara ajaran sufi dengan budaya hindu terdapat banyak kesamaan dalam sisi amaliyyah dan akhlaq semisal zuhud, meninggalkan kesenangan dunia, bahkan menilai tokoh-tokoh sufiyyah seperti Abu Yazid Al Bashthomi, Syekh Ma'ruf Al Karkhi, Syekh Abil Qosim Al Junaidi merupakan orang-orang yang bodoh dalam syari'at islam."
Asumsi ini sangatlah keliru, karena persepsi mereka hanyalah berdasarkan pada dhohir amaliyyah para sufi. Mereka tidak mengetahui bahwa hakikat sufiyyah ialah orang-orang yang ilmiyyah amaliyyah dan amaliyyah ilmiyyah.
Makna Tasawuf
Imam Sya'roni dalam pembukaan kitab Thobaqotussufiyyah menuturkan "Teman, ketahuilah bahwa ilmu tasawwuf merpakan istilah dari pengejawantahan sebuah ilmu yang terdapat dalam sanubari para saint (kekasih) Alloh ketika hati tersebut bersinar akibat pengaruh amal perbuatan yang relefan dan sesuai dengan Al-qur'an dan Al-Hadits. Sehingga bagi siapapun yang mengerjakan amal amal perbuatan dengan bertendensi pada keduanya maka akan terbias berbagai macam ilmu pengetahuan, norma-norma social, ilmu-ilmu yang bersifat supranatural dan hakikat yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, sebagaimana hukum-hukum yang ditetapkan oleh ulama syara' dapat menmimbulkan pengaruh-pengaruhdiatas manakala dialikasikan sesuai dengan apa yang diketahui.
Definisi Tasawuf menurut persepsi Syaikh Abu Yazid Al Bushthomi sebagai berikut " Akhlaq merupakan permulaan tasawuf dan tasawuf merupakan tujuan akhir dari akhlaq".
Pada kesempatan lain Imam Sya'roni mengatakan "Tasawuf merupakan inti perbuatan dari seorang hamba yang berdasarkan hukum syari'at dengan konsekwensi selama terhindar dari penyakit hati dan kepentingan-kepentingan pribadi ( hudhudun nafsi ) yang kontradiktif dengan sifat ikhlas". Hal tersebut sebagaimana ilmu ma,ani dan ilmu bayan yang notabene merupakan saripati dari ilmu nahwu (Gramatika arab) Sehingga dibenarkan apabila seseorang menjadikan ilmu tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu atau dijadikan sebagai hakikat ilmu syar'ie, Dan dibenarkan pula apabila sese'orang menjadikan ilmu bayan dan ma'ani sebagai satu mata pelajaran yang berdiri sendiriatau digolongkan sebagai bagian dari ilmu nahwu. Hanya saja yang mengetahui bahwa ilmu tasawuf merupakan hakikat ilmu syar'ie hanya orang-orang yang yang mumpuni atau nenguasai syari'at secara sempurna.
Imam Sya'roni mengatakan 'Para sufi sepakat bahwa seseorang belum layak menjadi pimpinan thoriqoh kecuali ia telah menguasai ilmu syari'at serta bisa membedakan antara ma'na mantuk dan mafhum (tersurat dan tersirat), khos dan 'am juga mengetahui nasikh dan mansukh. Disamping itu juga harus mahir dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan seluk beluk bahasa Arab' sehingga tahu antara majaz, tasybih, kinayah dan sebagainya". Kesimpulannya setiap sufi pastilah Faqih tapi tidak sebaliknya, sebab tasawuf tidak syah tanpa dibarengi dengan fiqh, hal ini sesuai dengan maqolahnyaa sebagian ulamu " Barangsiapa yang berfiqih (mengamalkan ajaran syaru'at) tanpa tasawuf maka dia adalah kosong, dan barangsiapa yang bertasawuf tanpa fiqih maka ia adalah yang bathil.
Imam Abu Qosim Al Junaidi Al-Baghdadi memberikan pernyataan sebagai penguat argumen diatas "Madzhab kami (sufisme) berpedoman pada Al-kitab dan Sunnah (tidak menyimpang dari keduanya).
Dalam kesempatan lain beliau menuturkan "Barangsiapa tidak memahami hukum yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits maka tidak bisa dijadikan panutan dalam menempuh jalan sufi. Sebab ilmu tasawuf bersumber dari keduanya.
Ainul Yaqien

Menghadang Aliran Sesat

Beberapa waktu yang lalu umat Islam Indonesia digemparkan dengan merebaknya faham-faham aliran sesat. Banyaknya aliran sesat itu dikarenakan kurangnya pemahaman tentang Islam secara utuh. Sehingga para penganut aliran sesat memahami Islam secara sempit. Mereka pun akhirnya hidup penuh dengan serba ketertutupan dari dunia luar dan mereka skeptis (ragu-ragu) dalam hal yang seharusnya mereka yakini.
Dalam hal ini para ulama cenderung kurang tanggap dalam memberikan solusi yang bijaksana. Suatu contoh, ketika ada aliran sesat cara melawannya dengan cara kekerasan. Padahal dakwah yang benar adalah dengan mau'idlatul hasanah (cara-cara yang baik) sebagaimana yang dicontohkan Baginda Rasulullah SAW.
Sepeninggal Baginda Nabi Muhammad SAW, kita kehilangan publik figur sebagai penata kepribadian dan penyelamat umat dari jurang kelaliman. Kita tidak bisa berpangku tangan saja, membelai jauh masa keemasan Islam dibawah pimpinan Baginda Rasulullah SAW. Kita harus bangkit meneruskan roda perjuangan sebagai bentuk manifestasi dari rasa kepedulian dan cinta kita kepada agama Islam tempat kita menggantungkan setiap harapan. Begitu banyak dalil-dalil 'aqli (akal) ataupun naqli (Al-Qur'an atau Hadits) yang memotivasi kita untuk menjadi pemain dalam bidang "Amar Ma'ruf Nahi Munkar".
Tapi mengapa kita diam seolah kita tidak tahu bahwa ajaran sang pengikis demoralisasi (kerusakan moral) semakin lama semakin menghilang, raib dari kepribadian insan, tergilas ajaran-ajaran tak beradab karya orang-orang biadab, fenomena ini sangat memilukan, keutuhan umat Islam mulai pecah, terlebih pada dewasa ini, begitu banyak ideologi atau ajaran-ajaran valium (golongan) tertentu yang tidak seirama dengan esensi ajaran murni Baginda Nabi, walaupun dengan segala upaya kebodohan yang melatarbelakangi ideologi atau ajaran-ajaran tersebut, mereka tutupi dengan berbagai macam argumentasi progresif.
Merebaknya faham desktruktif yang mewarnai aspek kehidupan dibelahan penjuru dunia ini merupakan bukti nyata akan kelengahan kita dalam mempertahankan ideologi warisan Baginda Nabi, wahabiyah misalnya, sekilas pandang mungkin kita terkesima dengan panorama yang ditampilkan mereka, tapi bila kita berupaya mengeksplorisasi dan menginspeksi keberadaan golongan ini secara intensif, kita akan menemukan satu titik kesimpulan bahwa mereka hanyalah orang-orang bodoh, pembual dan pendewa nafsu bahkan mereka tak pantas menyandang gelar pengikut Nabi atau Ahli Sunnah Waljama'ah (Aswaja) dan sebenarnya bukan hanya wahabiyyah saja yang mengkonsumsi ajaran - ajaran sesat.
Bukan hanya pengaruh duniawi saja yang mengantarkan kita pada kelalaian tapi lebih mengarah pada ketidakpedulian, ketidaksadaran dan kebodohan kita sendiri akan betapa pentingnya ideology atau faham-faham agamis dalam menapaki kehidupan ini karena dari ideology atau faham-faham tersebut kita akan mendapatkan gelar sejati dihadapan Ilahi Robby, apakah kita termasuk golongan yang faizin (beruntung) atau khosirin (celaka)? Padahal Allah SWT telah berfirman, "Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan dan menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imron: 104).
Sehingga tidak salah bila Baginda Nabi Muhammad SAW sangat gigih dalam mempertahankan kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah". Sudah saatnya kita bangun dari keterlenaan kita akan sajarah dan mimpi semu temporal yang hanya akan membelenggu jiwa dalam ketidakpastian (absurditas).
Rasanya tidak ada alasan bagi siapa saja diantara kita pengikut Baginda Nabi, untuk menutup mata dan tidak mau peduli dengan ideology yang kita yakini selama ini karena pada dasarnya, yakni golongan Ahlussunnah Wal Jama'ah. Istilah Aswaja populer di kalangan umat Islam, terutama didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah yang menegaskan bahwa umat Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, umat Nashrani akan terpecah menjadi 72 golongan dan umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua golongan tersebut masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan, yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya.
Dalam pandangan As-Syihâb Al-Khafâjî dalam Nasâm ar-Riyâdh, bahwa satu golongan yang dimaksud (tidak masuk neraka) adalah golongan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ'ah. Pendapat ini dipertegas oleh Al-Hâsyiah Asy-Syanwâni, bahwa yang dimaksud dengan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ'ah adalah pengikut Imam kelompok Abûl Hasan Asy'ari dan para ulama madhab (Imam Hanafi, Imam Syafi'I, Imam Maliki dan Imam Hanbali).
Karena itulaah untuk memahami Al-Quran dan sunnah perlu dilakukan penggalian (al-istinbâth) yang mendalam dan sungguh-sungguh (ijtihâd). Sementara untuk melakukan proses istinbâth secara langsung kepada Al-Quran dan sunnah, diperlukan berbagai kualifikasi keilmuan yang mendalam. Atau dengan kata lain, untuk menjadi seorang mujtahid, diperlukan berbagai penguasaan ilmu yang tidak sedikit. Maka, di sinilah relevansi dan kontekstualitas seorang muslim dalam mengikuti metodologi (madzhab manhaji) maupun produk pemikiran (madzhab qauli, natâij al-Ijtihâd) yang telah dikembangkan oleh para ulama madzhab
Dengan demikian, istilah Aswaja dimaknai sebagai suatu konstruksi pemikiran (pemahaman) dan sekaligus praktek keagamaan (Islam) yang didasarkan pada tradisi (sunnah) Rasulullah SAW, para sahabatnya dan para ulama mazhab, sekalipun yang terakhir ini lebih bersifat sekunder. Dengan lain kata, yang dimaksud dengan Aswaja tidak selalu identik dengan suatu mainstream aliran pemahaman tertentu dalam tradisi pemikiran Islam.
Oleh karena itu, penyebutan beberapa aliran dalam tulisan ini, tidak secara otomatis menunjukkan paham-paham yang paling benar atau paling identik dengan Aswaja. Justru di sini perlu ditegaskan, bahwa yang terpenting dari pemikiran keagamaan Aswaja adalah konsistensinya dengan tradisi keagamaan yang dipraktekkan Rasulullah dan para sahabatnya. Sementara dalam konteks taqlid, di sini lebih bersifat instrumental. Artinya, signifikansi taqlid, baik dari sisi metodologis (madzhab manhaji) maupun produk pemikiran-keagamaannya (madzhab qauli, natâij al-Ijtihâd) lebih dimaksudkan untuk membantu dalam memahami Al-Quran dan sunnah, ketimbang diletakkan sebagai satu-satunya sumber.
Sebab kepedulian itulah akan wujud suatu perjuangan dan hanya orang bodohlah yang menetapkan bahwa perjuangan itu tidak bisa hasil kecuali dengan meriam atau pedang, padahal dengan cara-cara yang lemah lembut dan tentu saja tanpa kekerasan pun perjuangan untuk menegakan kalimat Tauhid bisa berhasil. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita kejalan yang diajarkan nabi sehingga dapat memperoleh ridla dari-Nya. Amiiiiiin.

Haji dan Umroh



Semua yang dikerjakan secara sukarela, dalam ibadah haji dan umroh, setelah fardhu adalah amal sunnah yang dapat mendekatkan teradap cinta dan ridha Allah. Hal itu juga menjadi pembersih segala dosa dan penyakit. Rasululah SAW bersabda,”Dari umrah ke umroh dapat menghapus dosa. Dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga. (HR Bukhari).
Ibadah umroh dianjurkan untuk dilaksanakan setiap musim haji dan hari-harinya. Tetapi keutamaannya akan berlipat jika dilakukan pada bulan Ramadhan. Sabda Rasululah SAW,”Umroh di bulan Ramadhan, seperti ibadah di bulan haji.” (HR Bukhari).
Diriwayatkan dalam sunan Abu Dawud, seorang perempuan menyuruh suaminya bertanya kepada Rasululah SAW,”Ibadah apa yang dapat mengimbangi haji bersamamu?” Beliau menjawab,”Menyebarkan salam dan haji bersamaku, yakni umroh di bulan Ramadhan.” (HR Abu Dawud).
Baiknya seorang muslim membandingkan antara keuntungan yang diperoleh dalam ibdahnya, dengan cara memperoleh keuntungan yang lebih besar. Seperti halnya perniagaan dengan Allah SWT. Hendaknya ia memilih amal sunnah yang lebih banyak pahalanya dan lebih mudah dilakukan oleh jiwa dan lebih maslahat buat hati.
Ibnul Jauzi Ra berkata,”Saya mengetahui bahwa setiap orang yang dikaruniai kecerdasan, pasti akan mengetahui maksud dan tujuan ibadah yang dilakukannya, seperti ibadah puasa, ia akan membawa jiwanya (untuk melaksanakan ibadah) yang mampu ia lakukan dibandingkan (ibadah) yang lebih utama tapi ia tidak mampu melaksanakannya.
Ibnu Mas’ud Ra jarang berpuasa. Ia berkata,”Jika aku berpuasa, aku malah merasa lemah untuk mengerjakan shalat. Karena itu, saya memilih shalat dari pada puasa.” Sebagian sahabat jika berpuasa akan menyebabkan malas membaca Al-Qur’an, mereka lebih suka tidak berpuasa (Sunnah).
Seorang hamba mukmin, juga harus menggonta-ganti amal-amal yang membuat hati dapat merasakan manisnya iman. Yakni dengan menyesuaikan amal kebajikan. Imam Hasan Al-Bashri Ra berkata,”Carilah manisnya (iman dalam beribadah) dalam tiga hal: dalam ibadah shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Itu pun kalau kalian menemukannya. Jika tidak, ketahuilah bahwa pintu (pintu untuk merasakan manisnya ibadah) sudah tertutup (Madarij Salikin, 2/242).
Ainul Yaqien

Mencintai Allah




Perkembangan peradaban manusia dan modernisasi di segala bidang di satu sisi patut disyukuri. Di sisi lain dampaknya perlu diwaspadai. Yang paling nampak adalah munculnya berbagai penyakit fisik maupun mental yang bercikal dari kekosongan ruhaniah dan kehampaan spiritual.
Ketika hal ini mulai disadari, banyak orang berupaya mencari alternatif guna memperkaya khazanah spiritualnya. Sebagai muslim, penawar untuk berbagai masalah seperti ini telah tertuang baik di Al-Qur’an dan Sunnah. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 7, "Apa-apa yang dibawa oleh rosul kepadamu, hendaklah kamu pegang, dan apa-apa yang dilarangnya kepadamu hendaklah kamu hentikan".
Betapa Islam tuntas membahas berbagai aspek dari kehidupan manusia : aqidah, ibadah, ekonomi, sosial, politik, kejiawaan dan lain sebagainya. Dengan bahasa yang lebih ringkas, Islam mempunyai jawaban semuanya.
Namun untuk mendapat semua itu diperlukan dua hal. Pertama, keimanan dan pengkajian yang sungguh-sungguh terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, sesuai dengan yang diajarkan dan dipahami oleh Rasulullah SAW dan para sahabat. Kedua, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa upaya mengamalkannya, semua itu hanyalah sia-sia.
Barangkali banyak ibadah dan amal yang kita lakukan shalat, puasa, zakat, dzikir, haji, membaca al-Qur’an dan seterusnya. Persoalannya apakah semua itu sudah dilakukan dengan sepenuh kesungguhan dan keikhlasan. Sudah berhakkah kita menyandang cinta kepada Allah SWT?
Jika belum, pasti ada sesuatu yang keliru. Bisa jadi karena kurangnya pemahaman terhadap aspek ibadah atau kurangnya upaya setelah mengetahuinya, tentu ini sangat jauh dengan spirit yang dibangun Rasulullah SAW.
Dikisahkan, salah seorang sahabat Rasul tidak ingin beranjak ke ayat berikutnya dengan alasan belum mengamalkan ayat sebelumnya. Pantaslah jika para sahabat menjadi sosok-sosok yang mencintai dan dicintai Allah.”Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS At-Taubah).
Ainul Yaqien

Sunnah sedekah


Yang dimaksud dengan sedekah sunah adalah sesuatu yang menambah zakat fardhu. Orang yang bersedekah dengan suka rela pasti mencintai dan dicintai Allah, karena ia mampu mengalahkan dirinya yang diciptakan dengan kecenderungan sangat mencintai harta. Allah SWT berfirman,"Dan sesunguhnya ia (manusia) sangat bakhil karena cintanya kepada harta (Al-‘Aadiyaat:8).
Ketika seorang berinfaq karena mengutamakan cinta kepada Rabbnya di atas kecintaan pada dirinya, disertai rasa takut miskin di dunia yang menghalangi untuk berinfak, maka Allah akan memberinya rasa aman di akhirat dari rasa takut.
Allah SWT dalam firman yang lainnnya menyebutkan,"Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati (Al-Baqarah:274).
Allah mencintai hamba-Nya yang dermawan, yang kedua tangannya selalu terbuka lebar untuk memberi. Karena itu Allah melipatgandakan pahala orang bersedekah. Orang-orang yang berjuang melawan hawa nafsunya dengan mengeluarkan harta di jalan Allah hendaknya selalu berjuang ,emjaga dan membersihkan hartanya dari kotoran-kotoran yang haram. Karena sedekah yang akan diterima syaratnya harus berasal dari usaha yang bersih. Rasulullah SAW bersabda,"Sesungguhnya Allah itu Maha Bersih, Dia tidak menerima kecuali yang bersih (HR Muslim).
Selain mendatangkan kecintaan kepada Allah SWT, sedekah sunnah juga menjadi penghalang dari api neraka dan amarah-Nya, serta menjadi penyelamat berbagai dosa. Rasululah bersabada, "Asedekah akan menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api (HR An-Nasa’i)
Pahala orang yang mengerjakan shalat dan puasa sunnah berbeda-beda sesuai dengan keutamaan tempat dan waktunya. Demikian pula, pahala orang-orang yang bersedekah sunnah, berbeda-beda pula keutamaannya. Dalil tentang keterangan tersebut adalah sabda Rasulullah SAW ketika ditanya oleh sahabat, "Sedekah apakah yang paling utama?" Beliau menjawab,"Anda bersedekah padahal Anda sangat pelit, khawatir miskin, dan Anda mengangan-angankan kaya. Dan Anda tidak lalai sampai tiba saat sakaratul maut, lalu Anda berkata,"Untuk siapakah ini, untuk siapakah itu, dan ini milik siapa?: (HR Al-Bukhari).
Rasulullah SAW selalu mengutamakan orang yang membutuhkan bantuan dari pada dirinya sendiri. Ladang beliau memberikan padanya sedekah berupa makanan kadang berupa pakaian. Beliau sangat beragam dalam memberi dan bersedekah. Kadang dengan cara hibah, sedekah, atau hadiah.
Ainul Yaqien

Cahaya kehidupan


Nabi Muhammad SAW adalah cahaya semesta kehidupan, ini benar diungkapkan oleh Allah SWT, "Hai ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu, Rasul Kami menjelaskan kepadamu banyak dari isi al-kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan (Cahaya maksudnya adalah Nabi Muhammad SAW dan kitab maksudnya aadalah Al-Qur’an. (QS Al Maidah, 5:15)
Keterangan di atas dipertegas oleh SWT dalam firmannya, "Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan ijin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.(QS Al-Ahzab).
Jadi Nabi Muhmmad SAW adalah cahaya dan sinar yang menerangi umat manusia yang saat itu penuh kegelepan menuju ke jalan yang terang benderang.Dan tidak mengapa, jika kita mengatakan bahwa junjungan Muhammad SAW itu cahaya selagi Allah menyatakan beliau dengan sifat itu dan menyebutnya cahaya.
Terdapat keterangan dari para sahabat mengatakan, "Sesungguhnya wajah SAW seperti rembula\n, (HR Nasa’i)
Dan beliau sendiri telah menyampaikan bahwa ketika ibundanya (Siti Aminah) sedang mengandungnya,"Dia melihat cahaya yang menerangi istana-istana Bushra di negeri Syam." (HR Thabrani).
Selain itu masih banyak hadits dan atsar yang menerangkan Nabi Muhammad SAW adalah cahaya. Dan tidak sepantasnya kita menafikan bahwa cahaya tersebut adalah dalam bentuk fisik, karena tidak bertentangan pada kenyataan bahwa beliau bersifat menerangi dan mempunyai cahaya yang berbentuk material itu dengan prinsip dasar akidah.
Perkara yang dilarang adalah menafikan kemanusiaan dari diri Nabi Muhammad SAW karena bertentangan dengan firman-Nya, "Katakanlah: sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku (QS Al-Kahfi, 18:110)
Maka jalan yang selamat dalam masalah tersebut adalah kita memantapkan apa yang sudah dimantapkan oleh Allah SWT pada diri Nbai Muhammad SAW. Dengann demikian, kita menetapkan bahwa Nabi SAW adalah cahaya dan menerangi.
Menetapkan cahaya fisik bagi Nabi SAW itu tidak bertentangan dengan kenyataan bahwa beliau manusia. Rembulan misalnya, tabiat sebenarnya adalah bebatuan dan bersama itu ia juga mempunyai cahaya fisik. Dan Nabi SAW lebih baik dari rembulan dan lebih baik dari seluruh mahluk Allah SWT. Kita memohon kepada Allah SWT semoga memberikan kita petunjuk kepada jalan yang lurus. (***)
Ainul Yaqien

Karamah Wali

Ketika kaum penjajah masuk ke bumi Indonesia, mereka berhadapan dengan para ulama di berbagai daerah. Tak jarang prajurit penjajah tercengang saat peluru-peluru yang dihamburkan ke barisan pejuang tidak menimbulkan luka sedikitpun. Laskar rakyat yang berjuang itu sudah dibekali dengan kekuatan karamah dari para kyai yang berdiri di balik layar perjuangan bangsa Indonesia bahkan sampai saat membela kemerdekaan bangsa kita.
Karamah adalah perkara yang melampui ukuran normal (perkara luar biasa) yang tidak disertai dengan pengakuan kenabian dan tidak juga dimunculkan untuk itu. Ia ditampakan oleh Allah SWT pada seorang hamba yang jelas kesalehannya, konsisten dengan syariat, sangat menjaga untuk mengikuti sunnah Nabi, dibarengi dengan akidah yang benar dan amal shaleh; apakah ia sendiri menyadari perkara itu atau tidak menyadarinya.
Beriman dan percaya kepada karamah-karamah para wali termasuk prinsip-prinsip akidah Ahlussunah wal jamaah. Imam Ath-Thahawi berkata,”Kita beriman terhadap karamah-karamah yang disampaikan dan telah shahih dari orang-orang yang tsiqah (bisa dipercaya) di dalam riwayat-riwayat mereka.” Karena itu, pengingkaran terhadap karamah-karamah para wali bisa mengeluarkan seorang muslim dari Islam secara keseluruhan. Dan beriman terhadapnya termasuk prinsip-prinsip akidah Islam.
Wali berasal dari akar waliya yawla yang berarti dekat dengan sesuatu. Al-Waliyyu adalah orang yang memiliki kedekatan dengan Allah atau orang yang disayang oleh Allah SWT.
Menurut Imam Al-Qusyairi, waliy memiluki dua pengertian. Pertama orang yang dengan sekuat tenaga berusaha menjaga hatinya hanya bergantung kepada Allah dan terus menerus menjaga ketaatan tanpa diselingi dengan kedurhakaan.
Kedua, orang yang hatinya secara penuh dan terus menerus dalam penjagaan dan pemeliharaan Allah SWT. Dalam dunia sufi, wali-wali kelompok kedua ini dipercaya sering mengalami kefanaan kesadaran (Jadzab)., Mereka ini disebut dengan wali salik.
Dengan demikian seorang Wali Allah menurut Allah SWT adalah orang yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana firman Allah, ”Ketahuilah bahwa kekasih Allah tiada memiliki rasa takut dan rasa gentar. Mereka ialah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.” (QS Yunus , 62-63).
Ainul Yaqien